DAERAH

Inovasi Pengelolaan Sampah Desa Mekarjaya Didorong Swadaya Masyarakat dan Dukungan Penuh Kepala Desa

 

Garut, zonainformasinew.com — Inovasi pengelolaan sampah di Desa Mekarjaya, Kecamatan Tarogong Kaler, terus menunjukkan perkembangan positif. Program yang mengolah sekam hasil pembakaran menjadi pupuk organik serta kantong kresek menjadi paving block ini berhasil berjalan melalui kombinasi swadaya masyarakat dan dukungan penuh dari Kepala Desa H. Asep Rebit.

Menurut keterangan RW Aan, modal awal kegiatan berasal dari Kepala Desa, yang sejak awal memberikan ruang, fasilitas, dan dorongan agar masyarakat mampu mandiri dalam pengelolaan sampah.

Wawancara Bersama Ketua KSM, D. Jun

Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), D. Jun, menjelaskan bahwa program ini tumbuh dari gerakan warga yang sadar akan dampak sampah terhadap lingkungan. Partisipasi masyarakat menjadi fondasi utama kegiatan.

> “Kegiatan ini murni swadaya warga. Namun semua bisa berjalan karena didukung penuh oleh Pak Kades,” ujar D. Jun.

 

Ia juga menegaskan bahwa beberapa fasilitas penunjang berasal dari kontribusi pribadi Kepala Desa, di antaranya:

Mobil angkutan sampah, yang menurut Jun murni dibeli dari uang pribadi Kepala Desa untuk memudahkan proses pengumpulan sampah.

Pemanfaatan tanah carik desa sebagai lokasi pengelolaan, yang diberikan izin penggunaannya oleh pemerintah desa.

Gedung atau bangunan kerja, yang disebutkan merupakan bantuan dari kementerian, sehingga masyarakat memiliki tempat tetap untuk mengolah sampah plastik dan sekam.

Inovasi yang Dikerjakan

1. Sekam Pembakaran Menjadi Pupuk Organik
Sekam diproses melalui pengayakan dan pencampuran kompos. Petani mengaku diuntungkan karena tidak perlu membeli pupuk tambahan.

2. Kresek Menjadi Paving Block
Kantong plastik dilelehkan bersama pasir lalu dicetak hingga menjadi paving block yang kuat dan hemat biaya. Hasilnya sudah dipasang di beberapa titik jalan lingkungan.

 

Manfaat Nyata Untuk Desa

Program ini dinilai memberi dua dampak besar:

Lingkungan makin bersih karena sampah berkurang drastis.

Ekonomi masyarakat terbantu, karena hasil pengolahan sekam dan paving block bisa dijual atau dimanfaatkan untuk infrastruktur desa.

Warga berharap kegiatan ini dapat diperluas dan menjadi contoh bagi desa lain yang ingin mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan.(Yopi/Ajun)..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *