KOTA BEKASI

Viral Jual Kupon Daging Qurban Oleh IPI, Camat Bantargebang : Panitia Kembalikan Dana

 

Zona Informasi New, Kota Bekasi – Polemik terkait penjualan kupon daging kurban mencuat di Kelurahan Cikiwul, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi.

Panitia kurban diduga melakukan penjualan kupon tanpa transparansi yang memicu keresahan warga, terutama dari kalangan pemulung yang seharusnya menjadi penerima manfaat utama.

Persoalan bermula dari pencetakan 444 kupon seharga Rp15.000 per lembar oleh panitia, namun, hingga waktu pelaksanaan, hanya 174 kupon yang berhasil terjual, dengan total dana terkumpul sebesar Rp2.610.000.
Kondisi ini menimbulkan kecurigaan publik dan menuntut klarifikasi yang terbuka.

Menanggapi kegaduhan tersebut, Camat Bantargebang, Cecep Miftah Farid, bersama unsur kelurahan, anggota DPRD Kota Bekasi, dan tokoh masyarakat, langsung bergerak cepat.

Mereka menyambangi Ketua Ikatan Pemulung Indonesia (IPI), Senin (9/6/2025), guna merespons keresahan yang berkembang.

Camat Bantargebang, Cecep Miftah Farid dalam kunjungan tersebut menjelaskan, berdasarkan hasil pendataan awal, diketahui bahwa panitia mencetak sebanyak 444 lembar kupon qurban, namun hanya 174 kupon yang berhasil terjual dengan harga Rp15.000 per kupon. Total dana yang terkumpul mencapai Rp2.610.000.

“Sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat, panitia menyatakan bahwa dana hasil penjualan kupon akan dikembalikan kepada para pembeli,” papar Camat Bantargebang kepada wartawan Pokja Bantar Gebang.

Panitia berkomitmen mengembalikan seluruh dana pembelian kupon kepada warga, sebagai bentuk tanggung jawab.
Proses pengembalian direncanakan dilakukan secara terbuka dengan melibatkan media agar publik bisa menyaksikan langsung.

Proses pengembalian rencananya akan dilakukan pada Selasa sore (10/6/2025) dengan melibatkan media sebagai bentuk transparansi publik. Pemerintah Kelurahan Cikiwul juga telah melakukan pendataan ulang terhadap penerima manfaat, khususnya pemulung yang terdampak.

Menanggapi hal tersebut, Suryono ST, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Bantargebang, menyampaikan apresiasinya atas tindakan cepat dari berbagai pihak.

“Kami mengapresiasi respon cepat dari Anggota DPRD Kota Bekasi, pemerintah Kecamatan Bantargebang, pihak kelurahan, serta dukungan dari Polri dan TNI. Ini menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga ketertiban dan transparansi di tengah masyarakat,” ujar Suryono yang akrab disapa ‘Ketua Aing’.

Suryono juga mengungkapkan bahwa praktik serupa ternyata pernah terjadi pada momentum Idul Adha sebelumnya.
Bahkan, menurut informasi yang dihimpun Pokja Wartawan Bantargebang, harga kupon saat itu mencapai Rp35.000 per lembar.

“Semoga ini menjadi efek jera bagi panitia agar ke depannya tidak mengulangi tindakan yang tidak etis. Pengelolaan kurban harus dilandasi niat ibadah, bukan untuk yang lain-lainnya,” tegasnya.

Sebelumnya, marak dimedia sosial viral tentang Momen sakral Idul adha diwarnai kontroversi di Kelurahan Cikiwul, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Warga setempat diminta membayar Rp15 ribu untuk mendapatkan satu kantong daging kurban, yang seharusnya dibagikan secara cuma-cuma.
Kejadian ini terekam dalam sejumlah video yang viral di media sosial, terutama di platform X (Twitter) dan TikTok sejak Sabtu (7/6/2025).
Salah satu video menunjukkan dua ibu rumah tangga membawa kantong berisi daging usai melakukan pembayaran.

“Inilah daging kurban yang ditebus Rp15 ribu. Harusnya dibagikan gratis, bukan dijual,” tulis akun @MuhammadTuhasan dalam unggahannya.

Video lainnya, yang dibagikan akun @B3doel__, memperlihatkan antrean panjang warga di pinggir jalan. Seorang pria terlihat kecewa karena diminta membayar sebelum menerima daging kurban.

“Gila. Daging kurban aja dimainin. Tega banget,” tulis akun tersebut.

Lurah Cikiwul, Acep Supriyadi, mengatakan bahwa pihaknya sudah menemui Ketua Koordinator Wilayah Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) Cikiwul, Tarmin, yang diduga mengadakan skema pungutan tersebut.

Tarmin mengaku menjual kupon karena kekurangan dana untuk menyembelih tiga ekor sapi kurban yang diterima.

“Dalihnya, ada yang memberi tiga ekor sapi tapi tidak memberi biaya potong. Maka dia berinisiatif seperti itu,” jelas Acep. (A2TP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *