KOTA BEKASI

Kebutuhan Yang Mentauhidkan

Kota Bekasi, Zona Informasi New – Mengawali dari Kalam Ibnu Athā’illāh as-Sakandari, Kitab dalam Kitab Al-Hikam.

خَيْرُ أَوْقَاتِكَ وَقْتٌ تَشْهَدُ فِيهِ وُجُودَ فَاقَتِكَ، وَتُرَدُّ فِيهِ إِلَى وُجُودِ ذِلَّتِكَ

“Sebaik-baik waktumu adalah saat engkau menyaksikan keberadaan kefakiranmu (kebutuhanmu), dan engkau dikembalikan kepada keberadaan kerendahan dirimu.”

Saat paling berharga itu bukan saat kamu bersinar. Dunia iki seneng banget ngukur “waktu terbaik” dari sudut yang keliru. Waktu terbaik itu dianggap ketika kamu lagi naik jabatan, pas uangmu melimpah, pas kamu dipuji orang, pas foto-fotomu mendapat banyak likes. Kabeh iku ngira-ngira saka njobo tok.

Tapi Ibnu Athā’illāh bicara dari dalam — dari kedalaman rasa yang paling jujur. Beliau bilang: waktu terbaikmu bukan waktu kamu merasa hebat. Tapi waktu kamu merasa… butuh.

Ini bukan ajaran meratap. Ini ajaran tentang kejujuran ruhani yang paling murni.

“Saat Engkau Menyaksikan Kebutuhanmu”
Kata kuncinya adalah musyāhadah bukan sekadar “tahu”, tapi menyaksikan dengan sepenuh hati.

Bedane ngene: orang bisa tahu secara otak bahwa dia lemah, tapi hatinya masih ngomong “aku bisa sendiri, aku cukup sendiri.” Itu belum musyāhadah. Itu hanya pengakuan di mulut, tapi rasa dalam dada masih sombong.

Musyāhadah adalah momen ketika kamu benar-benar ngerasakne tenan-tenan ngerasake — bahwa kamu ini makhluk yang tidak berdaya sendirian.

Pernah nggak kamu mengalami malam yang sangat sunyi, saat semua usahamu gagal, saat kamu merasa tidak ada seorang pun yang benar-benar mengerti? Di situlah pintu itu terbuka. Bukan pintu keputusasaan, tapi pintu faqr, pintu kefakiran ruhani.

Faqr dalam tasawuf bukan berarti miskin harta. Faqr itu adalah kesadaran penuh bahwa dirimu ini fakir di hadapan Allah, artine butuh, bergantung, tidak bisa apa-apa tanpa izin-Nya. Nol besar kalau Allah angkat tangan.

Dan anehnya justru di situlah kamu paling dekat dengan-Nya. Karena Allah berfirman:

“Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah, dan Allah-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fāthir: 15)

Jadi fāqah atau faqr — kebutuhan — itu bukan aib. Itu alamat rohani bahwa kamu sedang berada di jalur yang benar.

“Dikembalikan kepada kerendahan Dirimu”
Kata Arabe (dhillah) sering salah dipahami. Orang mengira ini berarti hina, direndahkan oleh orang lain. Bukan. Dalam konteks Al-Hikam, dhillah adalah kerendahan diri di hadapan Allah, bukan di hadapan manusia.

Ibnu Athā’illāh pakai kata “turaddu” artinya “dikembalikan”. Bukan kamu yang nyamperin kerendahan itu dengan sengaja. Tapi kamu dikembalikan, seolah ada tangan tak kasat mata yang membimbing kamu pulang ke tempat asalmu.

Mulih… iya, mulih. Manungso sejatine asal saka ketiadaan. Sebelum ada, kamu adalah kekosongan. Allah yang memunculkanmu, bukan atas permintaanmu, bukan atas jasamu. Maka kerendahan di hadapan-Nya bukan sikap baru, itu fitrahmu yang paling purba.

Kamu pernah ngerasake momen di mana kehidupan memaksamu berlutut? Entah karena sakit, kehilangan, atau dikhianati? Nah, iku lagi dikembalikan. Bukan dihancurkan, namun dipulihkan ke posisi aslimu sebagai hamba.

Dan dari situ yaoiku dari titik paling rendah itu doamu jadi paling murni. Tangismu jadi paling tulus. Karena nggak ada lagi yang dikejar selain Dia.

Kenapa justru ini waktu terbaik?
Karena di sinilah komunikasi antara hamba dan Tuhan menjadi paling murni dan paling langsung.

Ketika kamu merasa cukup, merasa hebat, merasa sudah bisa, sering kali doamu jadi formalitas. Sholatmu jadi rutinitas. Kamu lupa bahwa kamu sedang berjalan di atas jembatan yang Allah pegang.

Tapi ketika kamu ngerasake butuh yang sesungguhnya_ fāqah yang tulus, maka setiap doa jadi beneran. Setiap “Yaa Allah” keluar dari dasar perut, bukan sekadar dari ujung lidah.

Mula iku, waktu ketika kamu ngerasa kecil, waktu ketika kamu ngerasa butuh, waktu ketika kamu ngerasa ora iso opo-opo lah iku wektu paling emas ing uripmu. Dudu wektu nalika kowe dipuji. Dudu wektu nalika kowe sukses. Tapi wektu nalika kowe jujur marang awakmu dhewe lan jujur marang Gustimu.

Oleh sebab itu, tanamlah dirimu di tanah kerendahan. Ibnu Athā’illāh di bagian lain Al-Hikam juga berkata:

“Kuburlah wujudmu di dalam bumi kerendahan, karena segala yang tumbuh namun tidak ditanam dengan baik tidak akan sempurna buahnya.”

Beliau mengajarkan kepada kita, kuburlah eksistensimu dalam bumi kerendahan, karena segala yang tumbuh namun tidak ditanam dengan baik tidak akan sempurna buahnya.

Woh sing paling apik tumbuh dari akar yang paling dalam, paling tersembunyi, paling tidak kelihatan dari luar. Begitulah jiwa manusia.

Jangan takut dengan momen-momen ketika hidupmu terasa runtuh. Jangan lari dari perasaan lemah, butuh, tidak cukup. Karena mungkin justru di situlah Allah sedang menyiapkan tempat yang subur untuk menumbuhkan sesuatu yang jauh lebih indah dari yang pernah kamu bayangkan.

Sebaik-baik waktumu… Wektu sing paling becik ing uripmu… adalah saat kamu jujur — bahwa kamu butuh. Dan kamu pulang — ke dalam kerendahan yang sesungguhnya.(M. Mujtabah/Abu Hasan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *