DAERAH

Diskominfo Garut Lakukan Monitoring Dan Pendampingan Perbaikan Rutilahu Di Kecamatan Peundeuy

Garut,zonainformasinew.com – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Garut, melakukan monitoring dan pendampingan perbaikan 5 unit rumah tidak layak huni (Rutilahu) di Kecamatan Peundeuy, Kabupaten Garut, Senin (19/12/2022).

Rombongan yang dipimpin langsung oleh Kepala Diskominfo Garut, Muksin, diterima secara langsung oleh Camat Peundeuy, Dani Ramdani, di Kantor Kecamatan Peundeuy.

Seusai penerimaan, Kadiskominfo Garut didampingi Sekretaris Diskominfo Garut, Agus Barjah, langsung melakukan peninjauan rumah warga yang menerima bantuan perbaikan rutilahu yang berlokasi di Desa Peundeuy dan Desa Toblong.

Meskipun diguyur hujan, tak menyurutkan niat tim Diskominfo Garut beserta Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Peundeuy untuk melihat secara langsung kondisi rumah warga yang menerima bantuan perbaikan rutilahu.

Kadiskominfo Garut, Muksin, menyampaikan jika program yang diinisiasi oleh Bupati Garut, Rudy Gunawan ini, dilaksanakan terutama untuk mengetuk hati semua pihak khususnya Aparatur Sipil Negara (ASN) dan seluruh stakeholder, agar bisa berempati kepada masyarakat yang kurang beruntung dan memiliki hunian yang kurang layak. Terlebih, saat ini Kabupaten Garut sedang dihadapkan dengan ancaman bencana hidrometeorologi, dan tentunya ini sangat riskan bagi warga yang memiliki rutilahu.

“Jadi targetnya dua yang pertama mungkin kita mewujudkan agar masyarakat yang kurang beruntung Ini mendapat hunian yang layak, kemudian yang kedua adalah untuk meningkatkan kesadaran dan rasa empati dari seluruh kalangan terhadap warga ataupun tetangga kita yang kurang beruntung,” ujar Muksin.

Berdasarkan hasil peninjauannya, ia menilai rumah-rumah warga yang menerima bantuan perbaikan Rutilahu kondisinya sangat memprihatinkan, apalagi dihadapkan dengan musim hujan sehingga menimbulkan kebocoran di beberapa titik.

“Kemudian juga rumahnya ada kekhawatiran ya sewaktu-waktu bisa saja kan karena kondisinya mungkin bisa terjadi ambruk dan sebagainya, kami sangat miris sekali ya dan Insya Allah mungkin bersama Pak Camat, kemudian para kepala desa, dan seluruh warga masyarakat, alhamdulillah di Kecamatan Peundeuy ini sudah bahu-membahu untuk bisa merealisasikan agar rumah-rumah yang diidentifikasi istilahnya paling rawan ini bisa diperbaiki dan memiliki kelayakan untuk dihuni seperti itu,” ucapnya

Ia berharap kepedulian sosial yang saat ini sedang digencarkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut ini tak hanya berhenti setelah terwujud perbaikan rutilahu saja. Akan tetapi, imbuh Muksin, bisa terus dilanjutkan oleh masyarakat ataupun pihak lainnya.

“Karena ini kan sifatnya stimulan, dari pemerintah daerah memberikan stimulan dan diharapkan dapat menggugah, dapat membangkitkan rasa empati dan semangat bergotong-royong di lingkungan masing-masing,” imbuh muksin.

Dalam kesempatan ini juga, Diskominfo Garut menyerahkan sedikit bantuan sembako bagi keluarga yang mendapatkan bantuan perbaikan rutilahu di Kecamatan Peundeuy, Kabupaten Garut.

Sementara itu, Camat Peundeuy, Dani Ramdani, menuturkan perbaikan 5 unit rutilahu di daerahnya ini tersebar di 5 desa yakni di Desa Sukanagara, Saribakti, Peundeuy, Pangrumasan, dan Toblong.

Senada dengan Kadiskominfo Garut, ia mengungkapkan program ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa empati dari masyarakat dalam hal bergotong-royong untuk bahu-membahu membangun rumah masyarakat yang tidak layak huni.

“Kami sudah menginstruksikan kepada kepada para kepala desa untuk dapat mengimbau masyarakatnya, dan juga dapat memberikan empati masyarakat yang memang sudah mempunyai rumah yang layak huni untuk memberikan sebagian sedekah mereka terhadap rumah-rumah yang tidak layak huni,” tuturnya.

Sementara, salah seorang Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Bantuan Perbaikan Rutilahu dari Desa Toblong, Tita Rosita (30), mengatakan jika kondisi rumah yang sudah ia tinggali sejak ia dilahirkan ini sudah mengalami banyak kerusakan, seperti atap yang bocor, papan bagian bawahnya bolong, bilik atau dinding dari anyaman bambu yang sudah hancur, hingga genteng yang sudah pecah dan berlumut.

Tita yang sehari-hari menjalani hidupnya sebagai ibu rumah tangga ini hanya memiliki penghasilan hasil kiriman uang dari suaminya yang bekerja di Bandung, di mana setiap satu minggu sekali ia akan dikirim uang senilai 150-200 ribu rupiah oleh suaminya.

Rumah peninggalan orang tuanya ini, kini dihuni oleh 5 orang yang terdiri dari Tita dengan suami dan kedua anaknya serta kakaknya.

“(Kamar mandi) ada cuman enggak ada kloset cuman buat mandi aja, kalau mau BAB (Buang Air Besar) ya numpang ke rumah orang atau ke itu ke kolam,” kata Tita. Karena sudah tidak memiliki orang tua, imbuh Tita, selama pembangunan rumahnya ia akan tinggal sementara di tetangganya.

“Terima kasih untuk Bapak Bupati dan semuanya yang sudah bekerjasama, terima kasih bantuannya atas rumah dan sembakonya. (Untuk pembangunan rumahnya) rumah yang layak aja, kalau ada minta (bantuan) buat tambah modal usaha gitu usaha kecil-kecilan, warung kecil-kecilan gitu, buat tambah-tambah anak jajan,” tandasnya. (Yopi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *